“Mungkin hatiku telah mengeras kali ini
Bunuh aku, sekali lagi…
Dengan melihatmu saja, sudah terhujam satu pisau
belati mengoyak hati
Oh… Kamu yang indah di sana, nun jauh tak dapat
kurengkuh
Sekiranya aku dapat memilikimu, apakah itu hanya
dimimpi saja?
Walau semua mimpi belaka, namun mengapa dirimu begitu
nyata adanya
Apa yang harus aku lakukan, dengan semua darah yang
menetes karena menahan luka akibat mencinta?
Berharap kamu membawakan perban dan obat luka untukku,
hanyalah menghabiskan waktuku saja
Menggantung segala asa dengan kesia-siaan dan
penderitaan yang luar biasa
Kau telah membunuh aku berkali-kali, coba sekarang
bunuh aku, sekali lagi
Menghilang masih mending pun, aku tak perlu repot
menyalakan api cemburu untuk membakarmu
Tapi, jika kamu tetap terlihat olehku, namun kau telah
menemukan dindamu
Aku tak tau apakah Tuhan mengizinkan hatiku untuk
bertoleransi akan hal itu
Mungkin saja, jika itu yang kau lakukan, kau berhasil
membunuhku, sekali lagi
Untuk yang terakhir kali”
Farah
menyeruput air yang berada di dalam cangkir coklat kesayangannya, tergenggam,
dengan genggaman yang kian menghangat. Matanya menelisik ke setiap sudut
ruangan kamarnya. Di atas ranjang, ia mencari segala memori yang hilang dalam
ingatannya. Lalu pandangannya tertuju pada satu bingkai foto yang terletak di
meja belajarnya, terdapat satu sosok lelaki yang menggambarkan kebahagiaannya
karena sedang memeluk perempuan kecil tercintanya.
Lalu
seakan ia teringat akan sesuatu, Farah terbangun dari duduknya, mengganti
piyamanya dengan pakaian serba hitam. Perempuan itu membuka pintu kamarnya
perlahan dan menjejakkan kakinya keluar rumah. Menyusuri jalan yang ntah
muaranya akan berakhir dimana. Sepatu warriornya yang lusuh perlahan mencari
arah ke suatu tempat, namun tetiba berhenti di sebuah tanah yang luas.
Tangan
wanita berumur 20 tahun itu mengusap matanya perlahan, banjir rupanya, setelah
ia sampai ke tujuannya melangkah. Farah sampai ke sebuah lahan dengan banyak
gundukan tanah dan papan-papan bernama, kakinya terhenti di sebuah nisan
bernama “Riadi” dengan tanggal kematian 10 tahun lebih muda dari umurnya. Ia
bertekuk lutut dan menyentuh nisan itu, menciumnya dengan serpihan kekuatan hatinya
yang tersisa.
“Aku tak bahagia kamu pergi
Tapi aku juga gak kepengin kamu pulang
Aku cuma pingin kamu ada”
Kata-kata
yang terbersit di benak Farah, kalimat mutiara yang Farah dapat dari film
Istirahatlah Kata-Kata. Seperti itulah, walaupun tak percis seperti yang
dikatakan Mbak Sipon kepada Mas Widji, intinya apa yang dirasakan Farah saat
melihat nisan ayahnya, sama kehilangannya seperti Mbak Sipon saat mesti
ditinggal mengabdi menjadi aktivis muda oleh suami tercintanya.
keren bgt akhh..salam sayang dari @nynalarasati|| MaCan #dwcsquad6
BalasHapus