Rabu, 01 Februari 2017

Wanita Kelapa (Part 1) - #30DWCHari1

“Mungkin hatiku telah mengeras kali ini

  Bunuh aku, sekali lagi…
  
  Dengan melihatmu saja, sudah terhujam satu pisau belati mengoyak hati

  Oh… Kamu yang indah di sana, nun jauh tak dapat kurengkuh

  Sekiranya aku dapat memilikimu, apakah itu hanya dimimpi saja?

  Walau semua mimpi belaka, namun mengapa dirimu begitu nyata adanya

  Apa yang harus aku lakukan, dengan semua darah yang menetes karena menahan luka akibat mencinta?

  Berharap kamu membawakan perban dan obat luka untukku, hanyalah menghabiskan waktuku saja

  Menggantung segala asa dengan kesia-siaan dan penderitaan yang luar biasa

  Kau telah membunuh aku berkali-kali, coba sekarang bunuh aku, sekali lagi

  Menghilang masih mending pun, aku tak perlu repot menyalakan api cemburu untuk membakarmu

  Tapi, jika kamu tetap terlihat olehku, namun kau telah menemukan dindamu

  Aku tak tau apakah Tuhan mengizinkan hatiku untuk bertoleransi akan hal itu

  Mungkin saja, jika itu yang kau lakukan, kau berhasil membunuhku, sekali lagi

  Untuk yang terakhir kali”

Farah menyeruput air yang berada di dalam cangkir coklat kesayangannya, tergenggam, dengan genggaman yang kian menghangat. Matanya menelisik ke setiap sudut ruangan kamarnya. Di atas ranjang, ia mencari segala memori yang hilang dalam ingatannya. Lalu pandangannya tertuju pada satu bingkai foto yang terletak di meja belajarnya, terdapat satu sosok lelaki yang menggambarkan kebahagiaannya karena sedang memeluk perempuan kecil tercintanya.

Lalu seakan ia teringat akan sesuatu, Farah terbangun dari duduknya, mengganti piyamanya dengan pakaian serba hitam. Perempuan itu membuka pintu kamarnya perlahan dan menjejakkan kakinya keluar rumah. Menyusuri jalan yang ntah muaranya akan berakhir dimana. Sepatu warriornya yang lusuh perlahan mencari arah ke suatu tempat, namun tetiba berhenti di sebuah tanah yang luas.

Tangan wanita berumur 20 tahun itu mengusap matanya perlahan, banjir rupanya, setelah ia sampai ke tujuannya melangkah. Farah sampai ke sebuah lahan dengan banyak gundukan tanah dan papan-papan bernama, kakinya terhenti di sebuah nisan bernama “Riadi” dengan tanggal kematian 10 tahun lebih muda dari umurnya. Ia bertekuk lutut dan menyentuh nisan itu, menciumnya dengan serpihan kekuatan hatinya yang tersisa.

“Aku tak bahagia kamu pergi

Tapi aku juga gak kepengin kamu pulang

Aku cuma pingin kamu ada”


Kata-kata yang terbersit di benak Farah, kalimat mutiara yang Farah dapat dari film Istirahatlah Kata-Kata. Seperti itulah, walaupun tak percis seperti yang dikatakan Mbak Sipon kepada Mas Widji, intinya apa yang dirasakan Farah saat melihat nisan ayahnya, sama kehilangannya seperti Mbak Sipon saat mesti ditinggal mengabdi menjadi aktivis muda oleh suami tercintanya.

1 komentar:

  1. keren bgt akhh..salam sayang dari @nynalarasati|| MaCan #dwcsquad6

    BalasHapus