Terasa sebuah tangan mengguncang keras bahunya, perlahan-lahan cahaya putih datang menerangi matanya, memberikan kesadaran akan kenyataan yang ada, Farah terbangun dari tidurnya dengan melihat ibunya tengah panik serta berkeringat dingin di hadapannya. Seperti biasanya, mengigau lagi, tetapi entah berapa kali pun mimpi itu terulang, Farah tetap belum bisa mengingat akhirnya.
“Kamu kenapa lagi Far? Demam apa capek atau apa?”
“Gapapa bu, Farah gapapa… Mimpi yang sama”
“Kita ke ustadz aja yok, ruqyah piye?”
“Apasih bu, setakut itu… Beneran bu aku gapapa”
“Yo wes lah, kamu tadi tidurnya abis ashar, jadi bangun baru maghrib gini toh”
“Aku ngadep dulu lah ya bu, sama Allah”
“Sana cepet ngadep, minta bapak baru sekalian yo”
“Hus!”
Ibu Farah tertawa sehabis meledek perempuan kecil semata wayangnya itu, mungkin saja ia memberikan ayah yang baru untuk Farah, namun semakin jauh ibu Farah melangkah mencari cinta yang baru untuk berteduh dan berjuang sepenanggungan, tetap saja ayah Farah adalah tempat hatinya berpulang. Meski sudah tiada, budi pekerti ayahnya diturunkan kepada Farah. Seorang yang ulet, ambisius, keras kepala, namun tetap peka untuk menolong orang lain, dialah Riyadi, ayah Farah.
Setelah sholat, Farah belum juga bangkit dari duduknya, entah apa yang terjadi antara dirinya dan Allah SWT, layaknya seseorang yang sedang memberikan koneksi pesan singkat kepada insan yang lain. Farah berharap dapat menyampaikan sesuatu yang tersimpan dalam hatinya. Sebuah luka kecil yang tersimpan jauh di dalam hatinya, alasan mengapa mimpi itu tidak pernah teringat akhirnya.
“Menyakitkan jika diingat, rindu jika terlupa
Namun, jika aku tidak ingin mengingat dan melupakan
Apa namanya? Ini cinta atau apa?
Keberadaanmu ingin kubuat jauh saja
Tetapi aku tak ingin kamu hilang”
#30DWCJilid4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar