Sabtu, 04 Februari 2017

Wanita Kelapa (Part 4) - #30DWCHari4

Suasana semakin kabur, pandangan sekitar pun menggelap, hal yang tidak bisa dimengerti menggerayangi pikiran seorang anak kecil yang gelisah akan sebuah kehilangan.

“Kalau kata yang lain, aku harus menghormati ibu terlebih dahulu

Tetapi, walau seperti itu, kamu akan selalu menjadi lelaki terbaikku

Yang pertama dan boleh menciumi pipiku untuk menghibur disela tangisku

Usapanmu lebih dari sekedar saput tangan penghilang pilu

Namun merupakan sebuah hal tak terlupakan yang jika diingat sangat menghancurkan batinku

Hai, sosok yang kata orang adalah ayahku

Aku ingin memelukmu seerat-eratnya, lebih dari rantai yang terkunci oleh sebuah gembok

Menahanmu di rumah, dan memilikimu selamanya

Dan kembali lagi ke dalam harfiah kehidupan, aku hanyalah manusia

Tuhan mencemburui aku yang lebih mencintaimu daripada yang lain

Katanya, rasa sayang akan lebih terasa jika kita sudah kehilangan yang kita sayangi

Dan aku, merasa akan mengalaminya kali ini

Dalam detik-detik nafas terakhirmu, aku menunggu di luar pintu kamar rumah sakit, menanti kabar pasti-tak pasti akan kepergianmu yang selalu tertarik ulur waktu

Sungguh, ada atau tiada ragamu, yang aku inginkan hanya kasih sayangmu tidak kau bawa ke liang lahat nanti

Namun keinginan tetaplah hanya keinginan, rencanaNya aku tak tau”

Farah mengikuti dokter yang menuntunnya ke dalam ruang rawat IGD, lebih dingin daripada di luar ruangan, dia berpikir “Apakah Daddy tidak membeku di ruang se-dingin ini? Lebih baik di rumah tanpa pendingin, ayah bisa hangat walaupun dengan selimut koyak, daripada disini mati menggigil”

Setelah membuka pintu ruangan, terdapat sesosok lelaki dengan baju pasien di atas ranjang, dengan wajahnya yang cerah namun juga pucat, berbagai kabel ditujukan ke dadanya. Lelaki itu tersenyum ke arah Farah. Ia mengulurkan tangannya menandakan ingin Farah mendekat padanya. Dokter pun menyuruh Farah untuk mendekati lelaki itu, ayah Farah.

Entah rasa yang terasa oleh Farah, campur aduk, antara bahagia karena ayahnya tidak benar-benar meninggalkannya, dan juga sedih karena ketidakpastian berapa lama lagi ayahnya harus berjuang mati-matian demi penyakit yang menyusahkan itu? Farah hanya berharap ayahnya dapat hidup dengan damai, di dunia apa pun itu.

Dengan infus yang masih terhubung di tangannya, ayah Farah mengelus rambut halus anak perempuan cantiknya perlahan, sedikit air mata yang tertahan untuk menetes terlihat di pelupuk matanya. Ia tersenyum melihat anak perempuannya baik-baik saja saat dia terbaring di rumah sakit. Namun tetiba, air matanya sedikit membanjiri wajahnya.

“Daddy, kapan pulang? Jangan nangis lagi Daddy, aku nemenin disini”

“Kalo Farah pulang sama ibu, makan dulu pake telur ceplok sama kecap di rumah, Daddy lebih seneng…”

“Kenapa Dad? Aku gamau ninggalin Daddy sendirian disini”

“Daddy malah lebih semangat untuk sembuh kalau kamu pulang sayang”

“Farah gamau pulang, Farah takut ayah kesetrum banyak kabel gitu di dada ayah”

“Ini seperti mengecas nak, untuk hidup Daddy membutuhkan energi lewat cas ini”

“Kalo memang iya, mengapa aku dan ibu juga tidak di cas Dad?”

“Karena kamu sehat Farah”


“Berarti ayah sakit? Aku ga bahagia ayah di rumah sakit, tapi ayah juga ga bisa pulang, tapi Farah mau ayah ada di rumah, potongin buah kelapa buat Farah, Farah mau ayah… Farah mau ayah… Ayah! Ayah!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar