Suasana
semakin kabur, pandangan sekitar pun menggelap, hal yang tidak bisa dimengerti
menggerayangi pikiran seorang anak kecil yang gelisah akan sebuah kehilangan.
“Kalau kata yang lain, aku harus menghormati ibu
terlebih dahulu
Tetapi, walau seperti itu, kamu akan selalu menjadi
lelaki terbaikku
Yang pertama dan boleh menciumi pipiku untuk menghibur
disela tangisku
Usapanmu lebih dari sekedar saput tangan penghilang pilu
Namun merupakan sebuah hal tak terlupakan yang jika
diingat sangat menghancurkan batinku
Hai, sosok yang kata orang adalah ayahku
Aku ingin memelukmu seerat-eratnya, lebih dari rantai
yang terkunci oleh sebuah gembok
Menahanmu di rumah, dan memilikimu selamanya
Dan kembali lagi ke dalam harfiah kehidupan, aku
hanyalah manusia
Tuhan mencemburui aku yang lebih mencintaimu daripada
yang lain
Katanya, rasa sayang akan lebih terasa jika kita sudah
kehilangan yang kita sayangi
Dan aku, merasa akan mengalaminya kali ini
Dalam detik-detik nafas terakhirmu, aku menunggu di
luar pintu kamar rumah sakit, menanti kabar pasti-tak pasti akan kepergianmu
yang selalu tertarik ulur waktu
Sungguh, ada atau tiada ragamu, yang aku inginkan
hanya kasih sayangmu tidak kau bawa ke liang lahat nanti
Namun keinginan tetaplah hanya keinginan, rencanaNya
aku tak tau”
Farah
mengikuti dokter yang menuntunnya ke dalam ruang rawat IGD, lebih dingin
daripada di luar ruangan, dia berpikir “Apakah
Daddy tidak membeku di ruang se-dingin ini? Lebih baik di rumah tanpa
pendingin, ayah bisa hangat walaupun dengan selimut koyak, daripada disini mati
menggigil”
Setelah
membuka pintu ruangan, terdapat sesosok lelaki dengan baju pasien di atas
ranjang, dengan wajahnya yang cerah namun juga pucat, berbagai kabel ditujukan
ke dadanya. Lelaki itu tersenyum ke arah Farah. Ia mengulurkan tangannya
menandakan ingin Farah mendekat padanya. Dokter pun menyuruh Farah untuk
mendekati lelaki itu, ayah Farah.
Entah
rasa yang terasa oleh Farah, campur aduk, antara bahagia karena ayahnya tidak
benar-benar meninggalkannya, dan juga sedih karena ketidakpastian berapa lama
lagi ayahnya harus berjuang mati-matian demi penyakit yang menyusahkan itu?
Farah hanya berharap ayahnya dapat hidup dengan damai, di dunia apa pun itu.
Dengan
infus yang masih terhubung di tangannya, ayah Farah mengelus rambut halus anak
perempuan cantiknya perlahan, sedikit air mata yang tertahan untuk menetes
terlihat di pelupuk matanya. Ia tersenyum melihat anak perempuannya baik-baik
saja saat dia terbaring di rumah sakit. Namun tetiba, air matanya sedikit
membanjiri wajahnya.
“Daddy, kapan pulang? Jangan nangis lagi Daddy, aku
nemenin disini”
“Kalo Farah pulang sama ibu, makan dulu pake telur
ceplok sama kecap di rumah, Daddy lebih seneng…”
“Kenapa Dad? Aku gamau ninggalin Daddy sendirian
disini”
“Daddy malah lebih semangat untuk sembuh kalau kamu
pulang sayang”
“Farah gamau pulang, Farah takut ayah kesetrum banyak
kabel gitu di dada ayah”
“Ini seperti mengecas nak, untuk hidup Daddy
membutuhkan energi lewat cas ini”
“Kalo memang iya, mengapa aku dan ibu juga tidak di
cas Dad?”
“Karena kamu sehat Farah”
“Berarti ayah sakit? Aku ga bahagia ayah di rumah
sakit, tapi ayah juga ga bisa pulang, tapi Farah mau ayah ada di rumah,
potongin buah kelapa buat Farah, Farah mau ayah… Farah mau ayah… Ayah! Ayah!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar