Datang dan pergi begitu saja
Menggoreskan luka tanpa pamit
Kau melangkahkan hatimu menjauhi
hatiku
Sadarkah? Jejak hatimu terlalu
pekat untuk aku hapus
Layaknya secangkir kopi yang
mempertemukan kita
Kau adalah salah satu keindahan
yang terasa pahit
Langit London menjadi saksi bisu
Bahwa aku pernah menitikkan air
mata untukmu
Seorang Linnaeus Alan, sang adam
yang misterius dan selalu aku pertanyakan
- Cassandra Lila
· CafĂ©
Lalouille, London 2009
Kesakitanku bertambah
pahit ketika harus aku akui…
Aku menahan rasa
cintaku untukmu, namun…
Kau tetap ada
Cerita yang ia baca di sebuah situs web membuatnya mengingat
sebuah lagu. Lagu itu terngiang dalam benak seorang perempuan berambut blonde
bernama Lila, lagu lama yang pernah diputar dalam satu stasiun televisi di
London. Sangat menggambarkan isi hatinya, namun ia menolak untuk mendengarnya
lagi.
“Untuk apa aku dengar?
Hanya mengingatkanku kepada sebuah hal yang semu.” Ucapnya dengan lirih
kepada seorang lelaki yang berada di hadapannya, dialah Marcell, seorang
sahabat lelakinya sekaligus pendengar yang baik bagi Lila. “Bukankah itu lagumu
dengannya?” ujar Marcell membalas perkataan Lila.
“Apa yang penting dari
sebuah lagu jika…”
#30DWCJilid4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar