·
Kediaman
Keluarga Linnaeus, London – 2004
Pintu rumah Alan sudah berkali-kali terketuk, namun lelaki
itu masih saja tidak ingin membukanya untuk bertemu dengan orang yang mengetuk
pintu rumahnya itu.
“Alan, aku mohon, aku butuh ngomong sama kamu”
Setelah perempuan itu berkali-kali memohon Alan untuk
membuka pintu yang menjadi penghalang bagi mereka berdua, akhirnya hati Alan
luluh dan membuka pintu tersebut. Entah mengapa seketika hati Alan mendingin
kaku, terasa sangat tercekat diantara suasana itu, ia hanya ingin menyuarakan
satu kepastian kepada perempuan di hadapannya itu, siapa lagi? Pastilah, Lila.
“Mau ngomong apa?”
“Alan…”
“Sudah ngomong aja, toh aku dengar kamu kok, tak usah
berlama-lama”
“Lan, bukannya aku menolakmu tapi…”
“Ah sudahlah, jangan bahas itu lagi atau akan kututup lagi
pintu ini”
“Baiklah, aku tidak akan membahas itu, namun ada satu yang
harus kau tau”
“Apakah itu penting?”
“Lusa, aku sudah ga ada di London, Lan… Aku pamit”
“Hanya itu?”
Tangan Alan membanting keras pintu rumahnya di depan wajah
Lila, sungguh itu juga merupakan tamparan keras untuk Lila, ia serasa tidak
diperdulikan oleh Alan. Ada yang salah diantara mereka berdua ‘sepertinya’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar