Sabtu, 11 Februari 2017

Wanita Kelapa (Part 6) - #30DWCHari11

Nampaknya sebuah kehilangan dapat menyebabkan hati seseorang terluka terlalu dalam, itulah yang dialami Farah. Ia selalu mendapatkan mimpi yang berulang tentang dirinya sewaktu kecil yang tak dapat ia ingat lag, efek traumatik yang mendalam ia rasakan sampai saat ini, diumurnya yang sudah tidak belasan lagi, bukan waktunya untuk menangis dan merenungi kenapa hal itu bisa terjadi.

Dengan penuh harap agar rasa sedihnya usai, Farah bangkit dari duduknya dan membereskan meja belajar yang biasa ia gunakan sekaligus untuk meja kerjanya, matanya tertuju kepada sebuah ponsel yang ada di atas meja tersebut, lampu led menyala-nyala biru dari ponsel itu, menandakan ada pesan yang masuk.


To: Farah
From: Bilal
“Far, dirumah? Gue ada kerjaan freelance nih buat lu,
mau bantuin gue nulis ga? Lu kan jago”
 
    

To: Bilal
From: Farah
"Ya iyasih gua dirumah, tapi lagi males kerja gue, gaada ide"
 

To: Farah
From: Bilal
“Yaelah, yaudah gue maen, kali aja lu seger liat gue jadi ada ide”
 
               


                Tanpa membalas pesan singkat yang ia terima, senyuman kecil tersungging dari bibir Farah. Sahabatnya, Bilal, seorang pemberi semangat dikala ia sedih, meski seringkali menyebalkan. Ternyata ibu Farah memperhatikan dari sela pintu kamar bahwa anak perempuannya itu sedang tersenyum sendirian. Seperti memahami apa yang ada di dalam benak Farah, ibunya mencoba mengorek informasi, ingin tahu apakah yang ia pikirkan benar.
            
                “Dari siapa toh, kok kamu senyum-senyum sendiri Far? Ibu ngeri ih”

                “Ih ibu ngapain liatin akuu”

                “Kalo sayang tuh bilang, jangan ditahan”
                
                “Aku aja gatau sayang itu apa bu, masih kecil aku mah polos”

     “Kayak bakso aja kamu sok polos, udah 20 tahun juga sok muda, kalo dia gaada baru nyesel deh, siapa sih dia?”

     “Hihi… Siapa ya? Pokoknya dia ga bakal pergi bu, ga kayak ayah”

     “Hush, Bilal kan manusia juga”
     
     “Aku sayangnya sama ibu aja pokoknya”

                
                 Tiba-tiba Farah menghambur ke dalam pelukkan ibunya, mengalihkan perhatian agar tidak dicecar pertanyaan yang membuat dirinya bimbang itu. Tanpa Farah menjelaskan, ibunya sudah mengerti perasaan hati anaknya itu, hanya saja kali ini ia membiarkan dengan alasan Farah sudah seharusnya merasakan apa itu sebuah kenyamanan bersama seseorang, sama seperti ibu Farah rasakan saat ayah Farah masih ada.

#30DWCJilid4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar