Nampaknya sebuah kehilangan dapat menyebabkan hati seseorang terluka
terlalu dalam, itulah yang dialami Farah. Ia selalu mendapatkan mimpi yang
berulang tentang dirinya sewaktu kecil yang tak dapat ia ingat lag, efek
traumatik yang mendalam ia rasakan sampai saat ini, diumurnya yang sudah tidak
belasan lagi, bukan waktunya untuk menangis dan merenungi kenapa hal itu bisa
terjadi.
Dengan penuh harap agar rasa sedihnya usai, Farah bangkit dari duduknya
dan membereskan meja belajar yang biasa ia gunakan sekaligus untuk meja
kerjanya, matanya tertuju kepada sebuah ponsel yang ada di atas meja tersebut,
lampu led menyala-nyala biru dari ponsel itu, menandakan ada pesan yang masuk.
|
|
|
Tanpa membalas pesan singkat
yang ia terima, senyuman kecil tersungging dari bibir Farah. Sahabatnya, Bilal,
seorang pemberi semangat dikala ia sedih, meski seringkali menyebalkan.
Ternyata ibu Farah memperhatikan dari sela pintu kamar bahwa anak perempuannya
itu sedang tersenyum sendirian. Seperti memahami apa yang ada di dalam benak
Farah, ibunya mencoba mengorek informasi, ingin tahu apakah yang ia pikirkan
benar.
“Dari siapa toh, kok kamu senyum-senyum sendiri Far? Ibu ngeri ih”
“Ih
ibu ngapain liatin akuu”
“Kalo
sayang tuh bilang, jangan ditahan”
“Aku
aja gatau sayang itu apa bu, masih kecil aku mah polos”
“Kayak bakso aja kamu sok polos,
udah 20 tahun juga sok muda, kalo dia gaada baru nyesel deh, siapa sih dia?”
“Hihi… Siapa ya? Pokoknya dia ga
bakal pergi bu, ga kayak ayah”
“Hush, Bilal kan manusia juga”
“Aku sayangnya sama ibu aja
pokoknya”
Tiba-tiba Farah menghambur ke
dalam pelukkan ibunya, mengalihkan perhatian agar tidak dicecar pertanyaan yang
membuat dirinya bimbang itu. Tanpa Farah menjelaskan, ibunya sudah mengerti
perasaan hati anaknya itu, hanya saja kali ini ia membiarkan dengan alasan
Farah sudah seharusnya merasakan apa itu sebuah kenyamanan bersama seseorang,
sama seperti ibu Farah rasakan saat ayah Farah masih ada.
#30DWCJilid4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar