Di sela-sela ketidak adilan, seluruh pengakuan hati ini aku tulis
“Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Ntah mengapa aku setuju denganmu mas,
Bagaikan bunga, mengapa banyak penguasa tak merestui
rakyatnya untuk tumbuh?
Aku tau, paradigma yang ada padaku, beberapa tak
sama sakitnya dengan aku
Ada yang bilang hidup tak usah banyak kritik,
bertindak apatis serasa akan selamanya hidup harmonis
Tetapi aku, aku sadar bumi pertiwiku sedang
menangis, bungkamku tak dapat diam, dengan banyak aksara yang keluar dari raga
dan pikiranku
Aku harus bicara, jika kamu diam, aku sekarang
boleh ngomong kan?
Pak, Bu… Saya mau tanya, kok kalau saya ngisor
dikit dari ibukota, rasanya sudah lain ya?
Masih saja ada kesenjangan sosial di antara kita,
Kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan adalah pokok
permasalahan utama
Dengan bangku politik dan kekuatan media, semua
masalah seakan-akan ditutupi dan mengurung kebenaran yang ada
Padahal negeri ini adalah rumah kita, tapi mengapa
kami yang merupakan saudara sebangsamu, kau cekik dengan topengmu bertubi-tubi
Jangan kau bolak-balikkan Bhinneka Tunggal Ika kami
Pak, Bu…
Aslinya, kami adalah SATU, masyarakat dengan
toleransi tinggi dibawah keberagaman suku, agama, ras, dan budaya
Jika kamu menghancurkan rumahku, kau bukan pemimpin
untuk kami, tetapi musuh terbesar yang akan kami lawan
Kami tidak segan menagih janjimu
“Apabila usul
ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!”
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!”
- Terinspirasi dari penggalan Puisi Wiji Thukul-
#30DWCJilid4
#30DWCJilid4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar