#30DWCJilid4
Saat itu pakaianku sehari-hari masih putih abu-abu, terkadang tidur juga
tak kuganti. Aku teringat saat nenekku memarahiku karena tidak membuka kaus
kaki sebelum beranjak keatas ranjangku. Oh masa SMA, entah kuingin sebut kelam
atau bahagia, saat itu adalah waktu paling berwarna yang pernah ada dihidupku.
Tepatnya bulan Februari, setahun lalu, galau melanda diriku, seharusnya
aku sudah siap akan kenyataan bahwa aku akan menghadapi ujian-ujian akhir di
sekolah, tetapi aku malah mempersalahkan masa lalu karena tidak belajar dengan
baik untuk mempersiapkan saat-saat terakhir di SMA.
“Mau jadi apa aku?” hatiku bergumam.
Februari waktu itu adalah saat dimana aku menangis di dalam dekapan
teman-teman dekatku, aku berkata pada mereka “Jikalau kalian berkuliah lebih
dulu daripada aku, aku masih tetap teman kalian kan?”, sungguh berat rasanya
kala itu, membayangkan sangat tidak siapnya aku melepas seragam putih abu-abu
yang sebentar lagi tidak perlu melekat di tubuhku setiap hari.
Namun, yang namanya sahabat memang tidak akan pernah pergi meninggalkan
sendirian, dialah yang tak pernah henti membantuku dalam doa dan berikhtiar.
Memotivasiku agar aku selalu mencari jalan terbaik dan tidak menyerah dalam
menjalani hidupku. Kalau dipikir, berapa kali aku berpikir untuk berputar-putar
arah mencari jati diri alias jurusan yang aku inginkan? Wah, tak habis pikir,
serasa setengah mati.
Tetapi semua jerih payahku, kepusinganku saat Februari kelabu tidak
terbayar sia-sia, ini aku sekarang di Februariku, mahasiswi Tata Busana dengan
almamater hijau UNJ tercintaku, terima kasih kawan, sahabat tercintaku, keluargaku
terutama nenek dan ibuku. Tanpa cinta kalian, aku tidak akan melangkah sejauh
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar