Ternyata
Farah tidak sendirian saat bersedih di depan nisan ayahnya, dari kejauhan
terdapat satu pasang mata yang memperhatikan. Bajunya lusuh, memakai topi yang
compang-camping serta membawa sapu lidi di tangannya. Bapak itu terdiam sejenak
memperhatikan Farah memeluk erat nisan di depannya. Perlahan kakinya mendekati,
hampir tidak terdengar suara derapannya. Sampai tangan kumalnya memegang pundak
Farah, tetiba Farah kaget dan terjatuh ke sebelah kuburan ayahnya, karena
melihat seseorang yang mengagetkan namun tak asing baginya.
“Sudahlah, kalo ditangisin juga ndak bakal idup lagi
de”
“Kamu tau apa soal hidup? Hidup kamu aja ga becus”
“Ga becus bagaimana maksudnya? Saya hidup sebagaimana
mestinya Tuhan beri saya waktu untuk hidup, beribadah dan bekerja, bagaimana
dengan kamu?”
“Alah, kalau becus seharusnya bapak tuh sekolah diselesain,
kerja jadi pegawai propinsi noh, bilang gubernur jangan cuma betulin jalanan
aja kerjaannya… Kita dipinggiran butuhnya nasi sama tempat tidur!”
“Kalo ngomong kok suka bener dek”
“Perempuan selalu benar, kalo salah, kembali ke
peraturan pertama”
“Weleh, sama pak Damin aja begini, edan pinternya”
“Aku ga edan eh pak…”
“Udah pintar, batu pula pikiran kau… Keras kayak batok
kelapa”
“Kelapa? Kepala?”
“Maksud bapak, kamu itu seperti kelapa, keras diluar,
lembut di dalam… Bapak seneng selama kamu hidup, ada ayah atau ga ada ayahmu,
kamu tetep keras ndo’ sama orang laen, tapi dibalik kata-katamu tuh kamu sayang
dan mau nyelamatin orang lain dari keterpurukan”
“Aku harus begitu ya pak? Karena aku anak tukang es
kelapa?”
“Bukan harus, kamu memang begitu”
“Mang iya….? Ciyusan?”
“Ah neng, kamu mah ngajak bapak bercanda, sampe bapak
lupa mau bersihin makam ayah kamu”
“Eheheh… Silahkan pak bersihkan”
Setelah
percakapan singkat antara Farah dan Pak Damin, akhirnya Pak Damin membersihkan
pusara kubur ayah Farah, setiap kunjungan Farah ke kuburan ayahnya, Pak Damin
selalu berusaha menghibur gadis tersebut. Anak kecil berumur 10 tahun yang
masih tidak mengerti kerasnya hidup mesti merasakan pahitnya kehilangan salah
satu orang tuanya. Namun Pak Damin selalu bertanya kepada dirinya, mengapa
selama 10 tahun berlalu, ibunya Farah tak kunjung berziarah pula? Padahal 10
tahun merupakan waktu yang sangat lama.
Pusara
ayahnya pun bersih, Farah dapat kembali ke rumahnya, selama 10 tahun Farah
kehilangan ayahnya, 10 tahun itu pula Farah merasakan traumatik yang amat
dalam, sesekali ia berziarah ke makam ayahnya untuk menetralisir rasa hancurnya
kehilangan, ada sebuah memori kehidupan terkunci dalam benak Farah. Yang seakan
jika dibuka, rasanya Farah ingin menyusul ayahnya.
Rumah
Farah tidak begitu besar, hanya sepetak rumah seperti kontrakan dengan 1 kamar
di dalamnya, sempit ya, dunia ini sudah tidak seluas dulu, yang mungkin jika
berjalan sedikit bisa menemukan tanah lapang. Setidaknya Farah bersyukur bisa
tetap mendapat tempat tinggal, karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan
sang ayah.
Setibanya
di rumah, Farah membuka tali sepatunya dan melempar sepatunya ke rak, menimbulkan
suara yang bisa terbilang berisik untuk rumah sekecil dan pastinya langsung
bersekat dengan tetangga sebelah. Ternyata dari dapur, ada seorang wanita
dengan umur kepala empat sedang memasak. Matanya melihat Farah setengah
melotot.
“De… Keseringan kamu ya, bikin kaget ibu saja”
“Cuma suara sepatu aja sok kaget bu, kalau bbm turun
nanti ibu pingsan”
“Loh kok bisa?”
“Sebuah pencitraan, kali aja ibu masuk berita terus
bisa dapet duit, buat jajan Farah biar ga makan kerupuk-nasi-tahu-tempee…
tahu-tempee… tempee…”
“Yang penting ibu masih dirumah bareng kamu loh,
ngehidupin kamu, nyekolain kamu”
“Tapi aku mau ga makan tahu tempe boleh bu? Masakin
yang lain bu”
“Apalah ibu kerjaannya hanya membantu tukang es kelapa
memotong kelapa, ya segitu-gitu aja duitnya…”
“Masakin yang laiiin buu…”
“Makan aja garem sama kecap, biar kurus ndak ada yang
naksir, biar ga repot ibu”
“Ih ibu jahat, ntar aku item kurus, terus masuk tipi
loh bu gara-gara kurang gizi… Eh tapi gapapa, biar dapet duit, Farah bisa makan
pake telor deh, atau pake ayam goreng, wih sedap”
“Gausah banyak ngayal toh… Ga kesampeyan nanti kecewa
kamu de”
Farah
tersenyum dan berlalu ke kamarnya yang kecil, ia menjatuhkan badannya ke atas
ranjang, berusaha tidur agar bisa melupakan segala penat dan rahasia hidup yang
ia kunci sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar