Kamis, 02 Februari 2017

Wanita Kelapa (Part 2) - #30DWCHari2

Ternyata Farah tidak sendirian saat bersedih di depan nisan ayahnya, dari kejauhan terdapat satu pasang mata yang memperhatikan. Bajunya lusuh, memakai topi yang compang-camping serta membawa sapu lidi di tangannya. Bapak itu terdiam sejenak memperhatikan Farah memeluk erat nisan di depannya. Perlahan kakinya mendekati, hampir tidak terdengar suara derapannya. Sampai tangan kumalnya memegang pundak Farah, tetiba Farah kaget dan terjatuh ke sebelah kuburan ayahnya, karena melihat seseorang yang mengagetkan namun tak asing baginya.

“Sudahlah, kalo ditangisin juga ndak bakal idup lagi de”

“Kamu tau apa soal hidup? Hidup kamu aja ga becus”

“Ga becus bagaimana maksudnya? Saya hidup sebagaimana mestinya Tuhan beri saya waktu untuk hidup, beribadah dan bekerja, bagaimana dengan kamu?”

“Alah, kalau becus seharusnya bapak tuh sekolah diselesain, kerja jadi pegawai propinsi noh, bilang gubernur jangan cuma betulin jalanan aja kerjaannya… Kita dipinggiran butuhnya nasi sama tempat tidur!”

“Kalo ngomong kok suka bener dek”

“Perempuan selalu benar, kalo salah, kembali ke peraturan pertama”

“Weleh, sama pak Damin aja begini, edan pinternya”

“Aku ga edan eh pak…”

“Udah pintar, batu pula pikiran kau… Keras kayak batok kelapa”

“Kelapa? Kepala?”

“Maksud bapak, kamu itu seperti kelapa, keras diluar, lembut di dalam… Bapak seneng selama kamu hidup, ada ayah atau ga ada ayahmu, kamu tetep keras ndo’ sama orang laen, tapi dibalik kata-katamu tuh kamu sayang dan mau nyelamatin orang lain dari keterpurukan”

“Aku harus begitu ya pak? Karena aku anak tukang es kelapa?”

“Bukan harus, kamu memang begitu”

“Mang iya….? Ciyusan?”

“Ah neng, kamu mah ngajak bapak bercanda, sampe bapak lupa mau bersihin makam ayah kamu”

“Eheheh… Silahkan pak bersihkan”

Setelah percakapan singkat antara Farah dan Pak Damin, akhirnya Pak Damin membersihkan pusara kubur ayah Farah, setiap kunjungan Farah ke kuburan ayahnya, Pak Damin selalu berusaha menghibur gadis tersebut. Anak kecil berumur 10 tahun yang masih tidak mengerti kerasnya hidup mesti merasakan pahitnya kehilangan salah satu orang tuanya. Namun Pak Damin selalu bertanya kepada dirinya, mengapa selama 10 tahun berlalu, ibunya Farah tak kunjung berziarah pula? Padahal 10 tahun merupakan waktu yang sangat lama.

Pusara ayahnya pun bersih, Farah dapat kembali ke rumahnya, selama 10 tahun Farah kehilangan ayahnya, 10 tahun itu pula Farah merasakan traumatik yang amat dalam, sesekali ia berziarah ke makam ayahnya untuk menetralisir rasa hancurnya kehilangan, ada sebuah memori kehidupan terkunci dalam benak Farah. Yang seakan jika dibuka, rasanya Farah ingin menyusul ayahnya.

Rumah Farah tidak begitu besar, hanya sepetak rumah seperti kontrakan dengan 1 kamar di dalamnya, sempit ya, dunia ini sudah tidak seluas dulu, yang mungkin jika berjalan sedikit bisa menemukan tanah lapang. Setidaknya Farah bersyukur bisa tetap mendapat tempat tinggal, karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan sang ayah.

Setibanya di rumah, Farah membuka tali sepatunya dan melempar sepatunya ke rak, menimbulkan suara yang bisa terbilang berisik untuk rumah sekecil dan pastinya langsung bersekat dengan tetangga sebelah. Ternyata dari dapur, ada seorang wanita dengan umur kepala empat sedang memasak. Matanya melihat Farah setengah melotot.

“De… Keseringan kamu ya, bikin kaget ibu saja”

“Cuma suara sepatu aja sok kaget bu, kalau bbm turun nanti ibu pingsan”

“Loh kok bisa?”

“Sebuah pencitraan, kali aja ibu masuk berita terus bisa dapet duit, buat jajan Farah biar ga makan kerupuk-nasi-tahu-tempee… tahu-tempee… tempee…”

“Yang penting ibu masih dirumah bareng kamu loh, ngehidupin kamu, nyekolain kamu”

“Tapi aku mau ga makan tahu tempe boleh bu? Masakin yang lain bu”

“Apalah ibu kerjaannya hanya membantu tukang es kelapa memotong kelapa, ya segitu-gitu aja duitnya…”

“Masakin yang laiiin buu…”

“Makan aja garem sama kecap, biar kurus ndak ada yang naksir, biar ga repot ibu”

“Ih ibu jahat, ntar aku item kurus, terus masuk tipi loh bu gara-gara kurang gizi… Eh tapi gapapa, biar dapet duit, Farah bisa makan pake telor deh, atau pake ayam goreng, wih sedap”

“Gausah banyak ngayal toh… Ga kesampeyan nanti kecewa kamu de”


Farah tersenyum dan berlalu ke kamarnya yang kecil, ia menjatuhkan badannya ke atas ranjang, berusaha tidur agar bisa melupakan segala penat dan rahasia hidup yang ia kunci sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar