Penolong bagi seorang insan dalam menjalani hidup adalah keinginannya
untuk berhijrah, keinginan untuk menjadi lebih baik dalam hal akhlak dan ibadah
karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengharap ridho dan cintaNya
kepada diri kita semata.
Pada satu waktu, saya menghadiri sebuah kajian tentang hijrah, banyak
yang saya dapatkan termasuk opini dan pengetahuan baru tentang hal itu sendiri.
Namun yang terbersit di benak saya sebagai seseorang yang sedang dalam proses
berhijrah pula, bagaimana sih hijrah yang benar-benar mencintai Allah SWT
dengan tulus dan apa adanya? Karena sebuah keikhlasan dan kebenaran dalam hati
seseorang adalah salah satu yang tersulit di dunia ini.
Oleh karena itu, saya mengikuti banyak kajian dan juga membaca artikel
tentang hijrah. Alhamdulillah, dengan niat menambah ilmu dan ingin menjadi
insan yang lebih baik lagi, saya mendapatkan pencerahan sekaligus ilmu baru
tentang hal tersebut.
Di dalam Shahihain (Shahih Bukhari,
no.54 dan Shahih Muslim, no.1907), dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu,
sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىمَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk dunia
yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya,
maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat dia berhijrah.
Apabila ada dua tujuan dalam takaran
yang berimbang, niat ibadah karena Allah dan tujuan lainnya beratnya sama, maka
dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama. Pendapat yang lebih dekat dengan
kebenaran ialah bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa dalam hijrahnya jika ia meniatkan hijrahnya untuk dunia yang hendak
diraihnya, seakan-akan yang dituntut dari pekerjaannya hanyalah urusan dunia
belaka.
Apabila ditanyakan “bagaimana neraca
untuk mengetahui tujuan orang yang termasuk dalam golongan ini, lebih banyak
tujuan untuk ibadah atau selain ibadah?”
Jawabannya:
“Neracanya ialah, apabila ia tidak menaruh perhatian kecuali kepada ibadah,
berhasil ia kerjakan atau tidak. Maka hal ini menunjukkan niatnya lebih besar
tertuju untuk ibadah. Dan bila sebaliknya, ia tidak mendapat pahala”.
Bagaimanapun juga niat merupakan
perkara hati, yang urusannya amat besar dan penting. Seseorang, bisa naik ke
derajat yang tinggi dan bisa
jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan dengan niatnya.
Dengan
penilaian diatas yang saya dapatkan dari berbagai ilmu yang saya terima, satu
pertanyaan yang terpikirkan. Sudahkah kita menjalani sebenar-benarnya hijrah
dari hidup kita?
#30DWCJilid4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar