Sabtu, 25 Februari 2017

Sebenar-benarnya Hijrah - #30DWCHari25

Penolong bagi seorang insan dalam menjalani hidup adalah keinginannya untuk berhijrah, keinginan untuk menjadi lebih baik dalam hal akhlak dan ibadah karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengharap ridho dan cintaNya kepada diri kita semata.

Pada satu waktu, saya menghadiri sebuah kajian tentang hijrah, banyak yang saya dapatkan termasuk opini dan pengetahuan baru tentang hal itu sendiri. Namun yang terbersit di benak saya sebagai seseorang yang sedang dalam proses berhijrah pula, bagaimana sih hijrah yang benar-benar mencintai Allah SWT dengan tulus dan apa adanya? Karena sebuah keikhlasan dan kebenaran dalam hati seseorang adalah salah satu yang tersulit di dunia ini.

Oleh karena itu, saya mengikuti banyak kajian dan juga membaca artikel tentang hijrah. Alhamdulillah, dengan niat menambah ilmu dan ingin menjadi insan yang lebih baik lagi, saya mendapatkan pencerahan sekaligus ilmu baru tentang hal tersebut.

Di dalam Shahihain (Shahih Bukhari, no.54 dan Shahih Muslim, no.1907), dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىمَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat dia berhijrah.

Apabila ada dua tujuan dalam takaran yang berimbang, niat ibadah karena Allah dan tujuan lainnya beratnya sama, maka dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama. Pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran ialah bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa dalam hijrahnya jika ia meniatkan hijrahnya untuk dunia yang hendak diraihnya, seakan-akan yang dituntut dari pekerjaannya hanyalah urusan dunia belaka.

Apabila ditanyakan “bagaimana neraca untuk mengetahui tujuan orang yang termasuk dalam golongan ini, lebih banyak tujuan untuk ibadah atau selain ibadah?”

Jawabannya: “Neracanya ialah, apabila ia tidak menaruh perhatian kecuali kepada ibadah, berhasil ia kerjakan atau tidak. Maka hal ini menunjukkan niatnya lebih besar tertuju untuk ibadah. Dan bila sebaliknya, ia tidak mendapat pahala”.

Bagaimanapun juga niat merupakan perkara hati, yang urusannya amat besar dan penting. Seseorang, bisa naik ke derajat yang tinggi dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan dengan niatnya.

Dengan penilaian diatas yang saya dapatkan dari berbagai ilmu yang saya terima, satu pertanyaan yang terpikirkan. Sudahkah kita menjalani sebenar-benarnya hijrah dari hidup kita?
                

#30DWCJilid4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar